My never-ready self

35f49ba0b718cc5dc438057bf35f5dca--faceless-portrait-james-fitzgerald

source: pinterest

An ended day always taught us lessons, told us stories&plans to be chosen. Today we might be here together, sharing the same laughs, hugs, foods, blankets and others – without knowing what will happen in a minute after. Another day may not be the same, the laughs, the hugs, the foods, the blankets and others can only be the stories that told one day. As we know, the most hurtful yet the most logical and most definitely thing to be happen among the living people is death. I may not having experiences that you’re going to named it tragic or whatsoever, but i can’t never imagine how that the most definitely thing happen to me one day – when the loved ones; parents, siblings, best friends, your other half, relatives, leave the world going somewhere you never see. Life will be so much different, with my mental stage right now I can tell that I’m not ready to be left. It is easy for me to be driven to despair, and we should not despair in a long time. Since I know it will happen in one day, I’m with resignation willingly to be taught on how to be ready and be more resilient.

 

Standard

When we know it, we know it.

People are boxed themselves with their own issue in their own circumstances. Sometimes, I did that in order to tell my self that we have our own privacy and so I didn’t feel bothered. But not today, not today.

My feelings are scattered, I feel like hundred of  sharp needles with big syringes injected to my chest. I saw the loved one crumbled, kneeled down, teary and perhaps begged something that life can never offer. I saw the strong wall he showed me past six years are fall apart. I saw that the loved one is really ‘human’ after all this time.

I never thought the bonds between me and him brought me to this phase, the phase when I realized that he perhaps my other half because the pain he felt was also felt by me, when his world crumbled – so does mine. His important persons are goes the same to me.

I never feel this strong to anybody but my loved ones. And I know, this is real. My long emptiness slightly gone.

 

Standard

Meaningless is hurtful.

I came to a realization that when we were saying a word too much, it has less meaning and losing its’ purposes. Mostly it comes when we’re trying to apologizing, I really understand the word ‘sorry’ and its’ derivatives has a strong purposes when we really mean it. That’s cliche. That’s also a rhetorical. We all knew it. But, I recently do not feel the nerve of hearing a person saying sorry. We  play cheap when saying this thing. It’s even cheaper than a candy on your school food stalls. Its’ strength has gone, flown away, left their meaning when you play it cheap without even trying not to say sorry in a next chapter. We say it to fake the situation that everything is okay when it is actually far away from okay. We say it to safe ourselves. We have to realize that sometimes we just don’t really mean it. We’re being selfish. These meaningless acts are hurtful. So please, we suppose to use it wisely. Straighten the intention & give back their powerful meaning.

Standard

Kamu = musim gugur.

Jalan tertunduk, meremas kertas; adakah dendam?

Aku lupa apakah ada kita di masa lampau yang sama? Ketika kita saling bertaut, seperti ada cerita yang kita tau. 

Aku rasa bukan dendam, hanya kesal karena pagi ini kamu lupa kopi mu. 

Kita masih dalam diam, kamu pindah dari bangku itu; tepat dalam singkapan mata ku kedepan.

Aku pemerhati handal, tapi kamu juga sepertinya? Warna musim gugur melekat di raga mu pagi ini, kamu suka parade busana juga? Tapi warna itu seperti diksi yang tepat ketika berbicara menggambarkan mu; dingin-hangat-misterius-rapuh tapi siap menerima musim selanjutnya, musim dingin.

Walau kamu rapuh seperti daun yang siap jatuh kapan saja, kamu tau musim dingin adalah suasana yang tepat untuk mengubur dan membekukan air mata.

Standard

Sunday Morning Thoughts

I know people changes, we just have to accept it. Whenever things changed a bit, I feel it. I repeat to myself whether it’s only an intuition of mine or it’s a reality. Even we have to accept it, the process in your brain to really realize and ready to take what’s behind the change is not really easy. I think the whole universe conspired in this change, because everything is change – and what’s never change is only the word itself. Lately, I’ve been on my decision to accept it and going through the next chapter of my life (because I have to even it suffer me so much)

Standard

What You/I/We Wished (part 2) – Arrived in New York City

Let me try to finish this untold story.

Akhirnya, Februari 2016 lalu kami ber-9 berangkat. Saya, Ocha, Hani, Arum, Fanda&Ekky berangkat dari Surabaya dan transit di Jakarta, langsung ketemu sama Maul, Ben dan Yosar disana. Thank God, karena yang mengerikan adalah perjalanan domestik dan kapasitas bagasi maskapai yg hanya 20kg/penumpang. Even my luggage is 23kg already. Untung kami ber-6 dalam satu boarding pass jadi ada kapasitas 20kg x 6 = 120 kg dan bebas biaya tambahan bagasi! Karena terbang pake citilink dan landed di terminal 1 jadi kami harus pake shuttle yang disiapin SHIA (Soekarno-Hatta Intl’ Airport) ke T2 untuk melanjutkan perjalanan dengan Maskapai Japan Airlines.

Quick Review of Japan Airlines & Narita International Airport

It’s a nice journey with Japan Airlines, I mean their staffs are helpful and smile brightly. Misal nih, saya gak berenti bersin-bersin padahal lampu di pesawat udah mati menandakan waktunya penumpang untuk istirahat, salah satu pramugari nya menghampiri saya dan menanyakan apa yang saya butuhkan. Warm towel, indeed + a cup of hot tea & they served me with that *wink*. Oya, kami juga transit di Jepang sekitar 4 jam jadi si Ocha masih sempet berburu tempat softlens yang dia tinggal di Surabaya dan nyobain makanan di Narita Airport. Tapi karena kita landed di Narita pagi banget like jam 6 pagi, belum banyak toko dan duty free yang buka *this is how God saved our dollar, literally*. Kami sempat mencoba cinnamon roll dan green tea donuts di salah satu kedai kopi namanya Tully’s Coffee, tekstur cinnamon roll dan donuts nya lembut dan chewy jadi bikin pengen ngunyah terus. Dari kami ber-9 yang membawa uang Yen cuman si Maul, tapi kita nggak usah ribet nukerin uang untuk belanja, karena kebanyakan toko disana juga menerima mata uang seperti USD dan Euro namun kembaliannya menggunakan Yen – sarannya siapkan pecahan mata uang tadu yang lebih kecil biar gak sayang banget gitu. Oya, selain itu pas udah mau naik pesawat dari Narita si Maul kena random check gitu, jadi dia harus masuk ruangan untuk di cek lebih komprehensif sama petugas (yang lain sampe parno). Untuk penumpang JAL pemula seperti kami, makanan di Japan Airlines menurut saya so-so cenderung enak banget apalagi ramen nya 😦 but sadly it’s not halal. Jadi saran nya adalah untuk selalu kasih notes saat booking tiket berapa pax yang membutuhkan halal meal, kebetulan saat flight NRT – JFK duduk kami terpencar dan saya muslim yang tidak menggunakan jilbab jadi ke skip deh sama mba pramugari dan melahap habis ramen nya. Kalo si Arum & Hani karena mereka menggunakan jilbab jadi memudahkan mba-mba pramugari untuk menawarkan halal meal. As I recommend, do not order the tomato juice or you’ll get the ketchup taste! Jadi pas penerbangan pulang, saya sampingan sama Ocha dan Yos, ketika saya tidur Yos mesenin jus tomat untuk saya minum. OMG. Mungkin karena beda selera ya, Yos bilang itu jus nya enak. But I’d rather drink jamu, Yos.

DCIM100GOPROGOPR0177.

CGK-NRT Japan Airlines

DSCF0490

Gangway JAL (courtesy: @hhasuri)

IMG_7156

Narita Airport

DSCF0575.png

TULLY’s Coffee di Narita Terminal 1 (courtesy : @hhasuri)

Landed in John F. Kennedy Airport, New York.

Setelah 13 jam perjalanan dari Narita akhirnya kami mendarat juga di JFK, sorry not sorry tapi saya terharu sampai menitikkan air mata sedikit pas mba-mba pramugari udah kasih pengumuman di pesawat kalau kita akan segera mendarat. Karena saat itu bulan Februari jadi masih winter, bahkan baru sekitar seminggu yang lalu nya beberapa bagian di Amerika juga terkena blizzard – nggak terkecuali New York yang mengakibatkan pesawat dari dan yang ke New York(dan beberapa bagian East coast lainnya) delay jadi kami bisa liat salju yang menggunung disamping runaway. Nah, adegan setelah turun dari pesawat adalah :

1. Irfanda ninggalin stand x-banner kebutuhan lomba di in-flight cabin. 

2. Awkwardly using the Automated Passport Control.

Saya gak akan bahas keteledoran Irfanda yang pertama. Jadi APC ini merupakan kios self-service untuk melakukan custom declaration yang biasanya dilakukan dengan mengisi formulir, mesin yang mirip seperti ATM ini dilengkapi dengan scanner untuk scanning data pribadi kita di paspor dan visa. Setelah berhasil scan, kita akan difoto karena mesin ini juga dilengkapi kamera. Pengalaman saya saat di APC cukup menenggangkan, karena ini pertama kali ke Amerika yang konon imigrasi nya galak banget saya jadi awkward karena mencoba scan paspor saya gagal 2x hingga saya harus menggunakan mesin lainnya. Untung ada pak Benyamin selaku tetua di rombongan kami yang suka membantu dan menabung! Akhirnya beres juga. Nah, proses imigrasi tidak selesai disitu. Setelah mengisi di APC, kita akan mengantre dan petugas imigrasi akan mengecek paspor kita seperti proses imigrasi biasanya. Begitu saya tiba di petugas imigrasi yang cukup tidak ramah, karena senyum aja nggak, saya jadi nervous lagi apalagi pas petugas membolak-balikkan paspor. Setelah menanyakan apa yang akan saya lakukan di Amerika, petugas juga menanyakan apa yang saya lakukan di Yaman setahun lalu karena ada cap nya di paspor. Wew, padahal saya cuman transit saat melakukan umroh, mungkin karena Yaman sekarang dalam posisi konflik jadi beliau kepo nanya aja. Pertanyaan di imigrasi benar-benar random kadang, si Ocha juga dikasih pertanyaan lucu seputar “kenapa gak turun di Boston aja kalo lombanya disana?” Oh, sir!!! Come on, the airfare to landed there is almost twice. Jadi sarannya, wherever you are, do not hesitate to answer their questions confidently and stay away from awkwardness. Sembari menunggu semua di antrean imigrasi, beberapa dari kami mengambil bagasi dari conveyor, seperti pada airport umumnya yang menyediakan trolley barang – JFK juga menyediakan, tetapi sayangnya tidak gratis 😦 kita harus membayar sekitar $4-$5 dengan memasukkan koin ke mesin nya, baru deh kita bisa menggunakan trolley tersebut. Jadi kami memutuskan membawa barang kami sendiri-sendiri.

Automated Passport Control (courtesy : cntraveller.com)

Mahal ya kan 😦 (courtesy: vintage.johnnyjet.com)

Setelah memesan van taxi untuk menuju PTRI di Manhattan, kami menunggu dan tiba-tiba ada seorang bapak yang sekitar berumur 60 tahunan bertanya (dengan bahasa Indonesia!!) mengenai maskapai yang kita gunakan karena beliau sedang menunggu temannya dari Indonesia. Ternyata begini rasa bahagia nya ketemu orang Indonesia sejauh ini, beliau bekerja di perusahaan Caltex dan sekarang tinggal di Queens. Sayang sekali, saya lupa bertanya nama beliau. Mengenai van taxi yang kami sewa harga nya sekitar $108-$110 dengan jarak dari JFK ke PTRI 28 km. Mungkin ada moda transportasi yang lebih terjangkau, namun saat itu kami memutuskan untuk menyewa van taxi karena lebih simpel dan bisa menyewa di counter yang berada di JFK selain itu suhu yang cukup dingin membuat kami ingin segera mencari kehangatan.

DCIM100GOPROGOPR0208.

Salju turun di JFK (courtesy: @arumkfc)

Perjalanan kami tempuh sekitar 30-40 menit melewati kawasan Queens, highway and tunnel kita sampai di PTRI sekitar pukul 12 siang. Even I really wanted to get sightseeing as soon as I were there but this jet lag has turned me down inside the fluffy blanket. Most of us woke up at 9.30 in the night and happily served by that famous New York Pizza bought by one of us. I don’t think I remember to took pictures of it, because I just overwhelmingly hungry. Setelah itu kami sadar untuk mengecek tiket bus greyhound yang kita pesen lewat temen si Maul, TA DA! Tiket yang dibeli bener aja ada eror nya. Seharusnya tiket itu dibeli untuk keberangkatan dari New York ke Boston tapi yang dibeli malah sebaliknya, langsung deh kami buru-buru nyari tempat nukerin tiket itu dan ternyata harus ditukerin di Port Authority Bus Terminal yang berada di 8 Avenue. Jarak dari PTRI ke tempat tersebut sekitar 1 mil, kalau jalan kaki sampai 30 menitan. Karena baru sadar pas jam 11 malem dan jam 12 malem tiket nya udah gak bisa ditukerin, kebayang dong gimana. Penjaga PTRI juga udah pulang, kebetulan itu hari libur setelah blizzard jadi kita gak bisa dapet advice transportasi tercepat kesana alhasil kami ber 5 (saya, Yos, Arum, Ben, dan Fanda) jalan kaki. Di suhu minus! Tapi seneng banget bukan kepalang karena itu pertama kalinya saya jalan-jalan di New York, melihat semua yang biasanya saya lihat di film. Bahkan saat kita lewat Empire State Building, Yosar nyetel lagu nya Alicia Keys dan Jay-Z yang judulnya Empire state of mind :)). TIPS! ALWAYS DOUBLE CHECK YOUR TICKETS, BECAUSE WHEN YOU DON’T THIS THING MIGHT HAPPENED, untungnya tiket tadi bisa dirubah Origin/Destination nya tapiiii tetep aja harus nambah biaya jadi ini pelajaran berharga buat tim kami. Last but not least, ini diseberang terminal bis Port Authority :

Jpeg

THAT NEW YORK TIMES BTW

Setelah usai mengurus keteledoran tadi kami kembali ke PTRI karena keesokan harinya kami harus berangkat ke Boston pada siang hari nya. Usut punya usut, karena kita super hemat sama sangu yang dibawa, esok hari nya kita juga melakukan hal yang sama dari PTRI ke Port Authority Bus Terminal yaitu jalan kaki. plus bawa koper segede-gede nya, and I can’t lie that it was my first time sweating in a winter day, of course legs barely feel anything. That day we went to Boston, to pursue each other’s dream in togetherness. (next post will contain so much hurts and love)

Standard

Tipis.

Syukur dan sukur adalah kata berbeda yang mirip. Kedua nya aku amini, karena jangan lupa; semesta berkonspirasi dalam semua partikel perjalanan ini. Selain torehan luka dengan garam, semesta juga berkonspirasi dalam manisnya karamel di atas pudingmu.

Standard