Kamu = musim gugur.

Jalan tertunduk, meremas kertas; adakah dendam?

Aku lupa apakah ada kita di masa lampau yang sama? Ketika kita saling bertaut, seperti ada cerita yang kita tau. 

Aku rasa bukan dendam, hanya kesal karena pagi ini kamu lupa kopi mu. 

Kita masih dalam diam, kamu pindah dari bangku itu; tepat dalam singkapan mata ku kedepan.

Aku pemerhati handal, tapi kamu juga sepertinya? Warna musim gugur melekat di raga mu pagi ini, kamu suka parade busana juga? Tapi warna itu seperti diksi yang tepat ketika berbicara menggambarkan mu; dingin-hangat-misterius-rapuh tapi siap menerima musim selanjutnya, musim dingin.

Walau kamu rapuh seperti daun yang siap jatuh kapan saja, kamu tau musim dingin adalah suasana yang tepat untuk mengubur dan membekukan air mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s